UNDIP Global Classroom: Mengeksplorasi Masyarakat Jepang Modern Melalui Industri Cokelat

Program Sarjana Bahasa dan Budaya Jepang, Fakultas Humaniora, Universitas Diponegoro (UNDIP), berhasil menyelenggarakan kuliah tamu internasional melalui program UNDIP Global Classroom (UGC) pada tanggal 26 Mei 2026. Dilaksanakan dalam format hibrida, acara tersebut menampilkan Prof. Yano Yoshiro, Ph.D., Profesor Sosiologi di Universitas Chuo, Jepang, yang menyampaikan kuliah berjudul “Memikirkan Masyarakat Modern Melalui Cokelat Jepang.”

Kuliah tersebut memberikan mahasiswa perspektif interdisipliner yang unik tentang masyarakat Jepang modern dengan meneliti sejarah, perkembangan, dan implikasi global dari industri cokelat. Melalui komoditas yang tampaknya familiar ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi isu-isu yang lebih luas terkait industrialisasi, kapitalisme, agama, imperialisme, budaya konsumen, dan keberlanjutan.

Pada bagian pertama kuliah, Prof. Yano memperkenalkan perkembangan industri cokelat Jepang melalui perusahaan-perusahaan besar seperti Meiji, Glico, Lotte, dan Morinaga. Beliau menyoroti peran penting cokelat dalam masyarakat Jepang, mencatat bahwa pasar cokelat Jepang saat ini menghasilkan nilai produksi tahunan sekitar 550–600 miliar yen. Kuliah tersebut juga mengkaji evolusi konsumsi cokelat di Jepang, termasuk makna budaya unik Hari Valentine dan praktik pemberian hadiah.

Diskusi kemudian beralih ke fondasi historis industri cokelat modern dari perspektif sosiologis. Dengan mengacu pada teori etika Protestan Max Weber dan semangat kapitalisme, Prof. Yano menjelaskan bagaimana para pengusaha Quaker, termasuk keluarga Fry, Cadbury, dan Rowntree, berkontribusi pada pertumbuhan industri cokelat Inggris melalui nilai-nilai seperti ketekunan, kejujuran, tanggung jawab sosial, dan kepercayaan.

Di luar perkembangan industri, kuliah tersebut juga mengkaji hubungan antara produksi cokelat dan imperialisme global. Para peserta mempelajari bagaimana budidaya kakao skala besar berkembang melalui sistem perkebunan yang didirikan selama era kolonial, khususnya di wilayah seperti Ghana, Pantai Gading, dan Indonesia. Prof. Yano lebih lanjut mendemonstrasikan bagaimana perluasan industri gula dan kakao beririsan dengan aktivitas kolonial Jepang sendiri, khususnya di Taiwan selama awal abad ke-20.

Tema penting lainnya yang dibahas selama kuliah adalah transformasi budaya konsumen Jepang setelah Perang Dunia II. Fenomena terkenal “Beri Aku Cokelat” melambangkan aspirasi akan kemakmuran dan modernisasi selama pemulihan pascaperang Jepang. Selama periode pertumbuhan ekonomi yang pesat yang dimulai pada tahun 1960-an, industri cokelat berkembang pesat melalui iklan media massa, komersialisasi Hari Valentine, dan strategi pemasaran yang menargetkan anak-anak dan konsumen perkotaan.

Kuliah tersebut juga membahas isu-isu keamanan pangan, kepercayaan konsumen, dan sistem regulasi dalam masyarakat modern. Salah satu kasus penting yang dibahas adalah insiden susu terkontaminasi arsenik Morinaga tahun 1955, yang menjadi peristiwa penting dalam pengembangan peraturan keamanan pangan di Jepang. Melalui contoh ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya pelabelan produk, perlindungan konsumen, dan kepercayaan publik dalam industri makanan.

Pada bagian akhir, Prof. Yano mendorong peserta untuk merenungkan masa depan industri cokelat global. Beliau membahas tantangan-tantangan kontemporer utama, termasuk perubahan iklim, kenaikan harga kakao, pekerja anak di wilayah penghasil kakao, deforestasi, dan keberlanjutan lingkungan. Isu-isu ini mendorong mahasiswa untuk mempertimbangkan kembali cokelat bukan hanya sebagai produk konsumen sehari-hari, tetapi sebagai komoditas yang tertanam dalam sistem ekonomi, sosial, dan lingkungan global yang kompleks.

Kuliah diakhiri dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab, di mana mahasiswa secara aktif terlibat dengan pembicara. Melalui kegiatan Kelas Global ini, peserta memperoleh wawasan berharga tentang hubungan yang saling terkait antara budaya populer, sejarah industri, teori sosiologi, dan tantangan keberlanjutan global.

Acara ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Universitas Diponegoro terhadap kolaborasi akademik internasional dan untuk memberikan mahasiswa perspektif global yang lebih luas melalui keterlibatan yang bermakna dengan para cendekiawan terkemuka dari seluruh dunia.